leo-chuu

VisualxDischarge

Sabtu, 01 Oktober 2011

Je me Souviens Chap 3 | Aoi X Nao | Ori Fic

Author             :  Leo Senri Arc-Raven Nigthray

Title                 : je me souviens

Chap                : 3/?

Fandom           : the GazettE , Alice Nine

Pair                  : Aoi X Nao (main) , Tora X  Nao

Summary         :

Genre              : Angst.

Coment           : ngak ada edit. Maaf kalau ada salah typo. *duakh* maaf juga kalau ceritany rada garing. T_T

A/n                  : saya bener-bener lagi jatuh cinta ama ini pair. XDXD

Disclaimer       : nao punya saia sorang ! yang lain punya emaknya. jadi mereka bukan punya tante girang yang seenak jidatnya aja ama para artisnya. (-v-)

 

Aoi duduk dikursi taman seorang diri. Mengutuk dirinya sendiri karena harus melihat kekasihnya melakukan hal hina bersama laki-laki lain. Persis dihadapannya. Kenapa nao tega melakukan itu kepadanya. Bahkan dengan sahabatnya sendiri. Dengan Tora.

Rasa yang ia rasakan saat ini adalah rasa sakit , bukan rasa dingin yang kini setiap orang rasakan. Rasa sakit yang teramat sangat terasa perih. Rasa sakit karena dihianati.

Ia terus mengutuk dirinya sendiri, termasuk kenapa ia dulu pernah mencintai Nao, mencintainya sepenuh hati sampai-sampai reila menentang ayahnya. Menentang kata-kata ibunya untuk menikah dengan hyena.

Jujur ia sakit hati dengan hal ini, tapi ia tak bias mempungkiri kalau ia sangat mencintai nao. Bahkan kalau ia boleh jujur ia tak bisa membencinya. Sedikitpun tak bias. Rasa cinta yang sanagt besar kepada naolah yang membuatnya terus merasa bersalah karena tak mempercayainya...

“Aoi itu kau ?” seorang pemuda tampan dengan mantel  bulu yang terbuat dari kulit musang itu menepuk pundak Aoi. Melempar senyum manis dengan dimple yang tersunging manis dipipinya.

“Kai, kau kenapa disini?.” Aoi balik bertanya. Dan seketika senyuman pria disampingany itu kembali terulas.

“aku tak sengaja melihatmu tadi waktu aku pulang  membeli pesanan Nacchii.” Ia menodohkan sebuah kresek belanja dengan beberapa snack yang ada didalamnya.
(Author sengaja masukin nama mbak nacc disini. Karena kalau boleh jujur saya kangen banget sama mbak nacc. Pas saya ke Surabaya buat terapi kemarin, saya pengen ketemu sama mbak nacc, tapi mbak nacc pas saya sms malah ngak bales. *mewek dipelukan mama kei* Lanjoooottttt)

“hah? Kau terlihat seperti pesuruhnya saja kai. Kau kan suaminya kenapa kau mau saja di perlakukan seperti ini.” Cibir Aoi padanya.

“karena aku mencintainya.” Terlihat rona merah diwajah tampannya. “ kau terlihat sangat frustasi Aoi. Apa kau ada masalah?.” Kai mengalihkan pembicaraan.

Aoi hanya tersenyum kecut. Matanya menerawang jauh. Menghembuskan nafasnya berat. Mungkin kata Kai benar kalau ia sangat frustasi sekarang. Frustasi karena nao.

“Aku mlihatnya melakukan dengan orang lain. Melakukannya dengan sahabatku sendiri. Dengan Tora.” Aoi mengepalkan tangannya hingga punggung tangannya berwarna merah padam. “dank au tahu kai , aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.” Aoi melanjutkan. Dan kini ekspresinya terlihat sangat jengkel. Jengkel setiap ingat apa yang ia lihat.

“kau percaya nao melakukan itu dengan tora?” Kai sedikit memperhatikan ekspresi wajah Aoi. Ia tahu kalau sahabatnya itu orang yang sangat sensitive hatinya. Ya mungkin menurut kai walau tampangnya seme tapi hatinya tetap pink. Itu mungkin gambaran yang tepat. *author dihajar Aoi.*

Aoi diam , diam seribu bahasa. Ia tak menjawab sepetah katapun.

“kau ini bodoh sekali aoi. Kau bahkan tak mempercayai kekasihmu sendiri. Tak mempercayai orang yang kau cintai. Kau masih bisa bilang kalau kau sangat mencintainya?.” Kai sedikit mencoba membuat aoi sadar kalau apa yang dia lakukan sekarang pada nao itu pasti sangat menyakitkan baginya.

“tapi aku melihatnya melakukannya Kai. Melakukan itu tepat dengan mata kepalaku sendiri.” Aoi bangkit dari duduknya dan sesekali terlihat seperti mengumpat pelan.

“duduklah Aoi. Jangan emosi. Kau akan terlihat lebih tua kalau kau marah-marah seperti itu. Kalau menurutku, aku yakin nao tak akan melakukan itu dengan siapapun.” Kai merapatkan mantelnya, membiarkan angina taman meniup helai-helai rambutnya. Semakin membuat bishie itu terlihat sangat mempesona.

“kau sok tahu kai.” Aoi tersenyum kecut , melempar tatapan sinis pada Kai.

“siapa bilang. (-v-)” kai merengut.

“kau bahkan hanya satu kali bertemu dengan noa, kai. Jadi kau jangan berkata kau seperti mengenal dia lebih dari siapapun.”

“lalu kau sendiri apa? Kau mengenalnya lebih dari siapapun Aoi?.” Aoi hanya terdiam atas kata kai. Lalu kai melajutkan kembali “ bukankah kalau lebih baik sok tahu daripada tak mau tahu aoi? Aku ingat saat kau pertama kali mengenalkanku padanya. Dia bahkan sangat ketakutan melihatku. Dan sekarang kau masih belum sadar juga kalau nao tak mungkin meminta tora melakukan itu. Toh kalau ia melakukan itu pasti nao dipaksa. Kau mengenalnya sudah lama aoi , hamper 3 tahun saat kau melihatnya ditoko buku waktu itu. Dan sekarang kau malah seperti menutup matamu akan kenyataan. Buka matamu Aoi!” kai menekankan kata terkahir dari mulutnya.

Aoi terdiam. Ia tak menjawab apapun. Ia hanya merenung atas kesalahannya. Ia merasa harus mengutuk dirinya. Mengutuk karena ia tak bisa mempercayai Nao. Apa yang ia katakana pada nao tadi pasti membuat Nao sakit. Kecewa. Bagaimana ia bisa melakukan itu pada Nao. Ia harus kembali dan meminta maaf pada nao. Karena sudah membuatnya menangis dan kecewa.

“kai. Apa yang kau katakan itu memang benar. Aku harus kembali dan meminta maaf pada Nao. Terimakasih kai.” Aoi memeluk kai singkat dan berlari meninggalkan kai sendiri.

“semangat Aoi! Aku akan mendoakanmu. Mendoakan kau selalu bersama nao..” kai tersenyum  lega.
                                    (^_^)

Nao terus berjalan tanpa tujuan. Saat ini ia tak tahu harus pergi kemana. Ia tak berniat kembali untuk hidup. Ia ingin mengakhiri hidupnya sekarang. Mengakhiri semua penderitaannnya.

Ia terus berjalan dengan tatapan kosong, tak ada tatapan teduh yang selama ini terpancar indah dari matanya. Ia terus berharap Aoi akan datang menjemputnya kembali, dan mengobati luka dihatinya.

Tanpa sengaja ia menabrak seorang pri besar berkacamata. Pria itu terus mengomel.  Tapi ia hanya terus berjalan tanpa menghiraukan omelan pria itu. Entah sudah berapa lama ia berjalan dan kakinya tersa sudah letih. Tapi entah mengapa hatinya terus memaksa untuk terus berjalan sampai rasa sakit dihatinya ini hilang,

Berjalan dan terus berjalan tanpa tujuan. Sampai ia benar-benar menemukan tempat yang ia bisa gunakan untuk mengobati rasa sakit dihatinya. Menghilangkan semua rasa kecewa dalam hatinya. Rasa sakit karena aoi sudah tak mempercayainya dan membencinya.

Entah berapa lama nao berjalan. Jalannya kini sudah sempoyongan dan sesekali ia terjatuh. Tapi ia terus bangkit dan kembali berjalan tanpa tujuan. Karena memang sekarang ia tak punya orang yang ia kenal. Ia tak punya orang yang akan melindunginya dari orang yang akan menyakitinya lagi.

Langit tanpa terasa kini , jalanan sudah terasa sepi. Langit menjadi gelap, huajnpun setitik demi setitik menurunkan buliran bening. Berharap hujan akan menghilangkan rasa sakit dihatinya tapi nyatanya hujan semakin membuatnya merasa sakit.

Tanpa terasa kakinya berhenti disebuah jembatan. Tak ada seorangpun disana. Hanya ada Nao dan rasa sakit yang ada dihatinya. Tersiat dalam hatinya,ingin rasanya mengakhiri rasa sakit ini. Untuk apa ia hidup lagi jika aoi saja sudah tak mau melihatnya muncul dihadapannya.

                                                            NAO POV~

Karena aku hanya ingin hidup untuk Aoi. Karena hanya aoilah yang aku punya. Tapi sekarang jangankan melihatku, mendengarnamaku pun aoi pasti sudah tak mau. Aoi sekarang sudah pergi jauh dari kehidupanku, pergi meninggalknaku untuk selamnya.

Aku terus menatap aliran sungai dibawah sana. Melihat betapa tenang air sungai disini. Apa disana semua rasa penderitaannya akan segera berakhir? Berakhir denga beku disini.

Ku bentangkan kedua tangganku, membiarkan angina dan hujan menyapu tubuhku. Mengigilpun aku tak peduli. Mati kedinginan , aku bahkan menginginkannya. Air mataku terus menetes dengan tetes air hujan yang menguyur tubuhku.

Berharap aoi akan dating menjemputku , mengusapair mataku dengan lembut dan memelukku dengan hangat. Tapi itu hanya mimpi. Aoi tak mungkin datang.

“Hentikan!! Nao hentikan!! Nao, kumohon hentikan. Ku mohon urungkan niatmu.” suara itu. Itu suara aoi. Apa aku hanya berhalusinasi.

                                                            ~NAO PoV End~

”untuk apa aku hidup lagi jika aoi sudah tak percaya lagi padaku.” isak nao dengan senyum kecut.

”aku aoi nao. Aku aoimu. Aoi yang berjanji akan selalu menjagamu.” aoi mengulurkan tangannya pada laki-laki yang ia cintai itu. Nao berbalik dan meyakinkan dirinya sendiri.

”aoi? Mana mungkin ? itu bohong ! mana mungkin. aoi sudah membenciku. Ini pasti hanya hayalanku. Ini bukan aoi.” nao terlihat sangat terpuruk dan isak tangisnya membuatnya aoi benar-benar geram,

’aku aoimu nao , aku aoimu. Orang yang benci menangis karenamu. Dan sekarang kau tahu aku menangis untukmu.” aoi meyakinkan nao. Tapi nao tak menghiraukan ocehannya.

”aku sudah tak berniat hidup lagi kalau aoi sudah tak menginginka aku lagi.” nao tersenyum kecut. Kini iya melihat kebawah jembatan dan merentangkan kedua tangannya seakan ia akan terbang lepas.

”harus berapa kali aku bilang kalau aku adalah Aoimu. Aku yang selalu menunggu senyuman yang terulas dari bibirmu Nao. Aku ... aku aoi yang mencintaimu. Kau anggap aku ini apa hah? Kenapa kau sering mengangapku orang lain yang selalu menyakitimu. Aku...aku bukan mereka. Aku yang akan melindungimu dari gunjingan mereka. Ku mohon kemarilah.” aoi kembali mengulurkan tanggannya. Kini nao sudah yakin kalau aoi benar-benar ada disini.

”aoi, kau benar-benar aoi. Aku tidak seperti yang tora bilang aoi. Aku tak melakukannya dengan tora. Dia dia yang memaksaku melakukan itu. Ku mohon percaya padaku.” kini uluran tangan aoi disambut  hangat oleh nao dan aoi lalu merengkuh tubuh nao yang mengingil kedinginan.

Aoi memeluknya erat. Mencium bibirnya lembut. Dan kembali memeluknya. Pelukan hangat yang selalu Nao inginkan. Pelukan hangat dari Aoi. Orang yang sangat ia cintai.

”nao badanmu panas. Kau tak apa kan?” aoi terlihat panik.

’aku baik saja kok.hanya saja aku sedikit kedinginan, aoi aku mencintaimu.” kini tubuh hangat aoi lambat laun tak dapat nao rasakan. Yang ia rasakan hanya tubuhnya terasa berat dan semua terlihat gelap.

”Nao .. nao bangun. Ku mohon bangunlah.”



TBC~


Huwaaaa~ maaf saya baru sempet buat ngepublish ini fanfic, maklum saya lagi repot nyari tempat parkering yang pas buat saya. (._.)
Saya bener-bener minta maaf. (oT/\To)

Udah telat ngepublishnya , garing pula ff’a. maafkan saya sekali lagi. Saya janji di chap selanjutnya saya akan berusah lebih baik. Doakan saya.

Kripik dan sarapannya saya tampung dengan senang hati pokoknya.
ArisuGazettE~

-Leo Senri Arc-Raven Nightray-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar