leo-chuu

VisualxDischarge

Sabtu, 01 Oktober 2011

Je Me Souviens Chap 2 | Aoi X Nao |

Author             :  Leo lagi rujakan XDXD

Title                 : je me souviens

Chap                : 2/?

Fandom           : the GazettE , Alice Nine

Pair                  : Aoi X Nao (main) , Tora X  Nao

Summary         :

Genre              : Angst, smut (abal)

Coment           : ngak ada edit. Maaf kalau ada salah typo. *duakh* maaf juga kalau ceritany rada garing. T_T

A/n                  : saya bener-bener lagi jatuh cinta ama ini pair. XDXD

Disclaimer       : nao punya saia sorang ! yang lain punya emaknya.

Please enjoy it. :3




Saat Aoi selesai memindahkan Nao yang tadi pingsan ke kamarnya, handphonenya berbunyi. Sial umpat aoi dalam hati. Telfon dari ayahnya.

“moshi-moshi, ayah. Ada apa?’ jawab Aoi dengan suara sedikit cemas

“yuu , kau bisa datang menemuiku sekarang. Ini tentang pertunanganmu dengan Hyena.” Jawab pria diseberang sana.

“ayah , harus berapa kali aku bilang aku tak mencintainya ayah. Aku mencintai orang lain. Ayah sudah janji padaku kalau aku bersedia melanjutkan usaha ayah aku bebas menentukan pilihanku. Dan sekarang aku menagih janji ayah itu.” Jawab aoi sedikit menahan emosi.

“tapi yuu, ini untuk masa depanmu juga. Hyena gadis yang baik. Dia pasti membuatmu bahagia.” Ucap ayahnya lanjut.

“ayah, aku bilang tidak. Sekarang ayah pilih aku melanjutkan perusahaan ayah atau tidak.” Aoi menekankan setiap kata yang keluar dari bibirnya.

“baiklah kalau itu memang maumu. Tapi ayah harap kau bisa mengerti apa yang ayah inginkan. Ayah tunggu kau di kantor ayah.” Telfon itupun putus tanpa aoi sempat menjawab apapun.

“kau kenapa Aoi? Ada masalah dengan ayahmu?” kata tora pada temannya itu.

“ayahku memintaku menemuinya. Tapi keadaan nao sekarang tak memungkinkan aku untuk meninggalkannya sekarang.” Aoi terlihat bingung. Ia tidak mungkin meninggalkan Nao sekarang dalam keadaan seperti ini.

“kau datang saja menemui ayahmu. Kau tahu kan sifat ayahmu itu seperti apa. Nao biar aku yang menjaganya. Percaya padaku.” Aoi sedikit berfikir sebentar. Mungkin apa yang dikatakan tora benar. Urusannya akan semakin rumit jika ia tidak menemui ayahnya sekarang.

“tolong jaga Nao. Kalau ada apa-apa padanya segera hubungi aku.” aoi dengan terpaksa akhirnya meninggalkan Nao sendiri bersama tora. Walau sebenarnya ia tidak tega melakukan itu.

-xxXxx-


Nao merasa ada yang membelainya, tapi itu bukan Aoi. Bukan tangan aoi yang selama ini ia sukai. Tangan ini terasa perih dan panas saat menyentuhnya. Bahkan terasa jijik saat tangan itu menyentuhnya. Ia yakin ini bukan aoi. Lalu kalau bukan Aoi ini siapa?

“Aoi, ini kau.” Suaranya masih lirih bahkan terdengar ia sangat lelah.
Pria disampingnya hanya tersenyum bengis.

“kau masih mengingatku Nao? Kau masih mengingat suaraku.” Suara itu membuat nao terperanjak dari tidurnya. Mendengar suara itu saja sudah membuatnya lemas. Seperti besi panas yang menghujam tubuhnya. Ia bagaimana bisa melupakan suara itu, itu suara tora. Ia tak pernah lupa. Tidak bahkan untuk sedetikpun. Kini orang itu dating lagi untuk dating lagi tepat didepannya. Dating untung menyakitinya.

“Aoi !!! Aoi tolong aku. Aoi !!” nao terus menjerit berharap Aoi segera dating tapi percuma. Aoi tidak dating untung menolongnya dari laki-laki biadab macam tora.

“kau mau berteriak seperti apapun hasilnya juga percuma. Tak akan ada yang akan menolongmu.” Kini tawa Tora kembali pecah. Tawa yang membuat nao mengingat saat ia berada dalam dekapan tanan tora. Saat ia diperlakukan seperti bonekanya. Disiksa tanpa peduli bagaimana rasa sakitnya dia.

“kumohon jangan sakiti aku lagi tora. Kumohon. Biarkan aku bahagia bersama Aoi.” Tubuhnya bergetar hebat. Tangannya kuat mencengkeram selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Keringat dingin mengucur dari wajah manisnya. Tubuhnya benar-benar tidak bisa bergerak karena ia terlalu ketakutan. Kakinya bahkan tidak mau menuruti perintahnya untuk segera lari jauh-jauh ari tora, kakinya tidak bisa bergerak seperti dipasung dan diberi beban berton-ton.

Ia terus memohon, menangis bahkan menjerit. Tapi apa yang dilakukannya justru membuat tora tertawa terbahak-bahak. Kini tora sudah berada tepat dihadapannnya. Siap untuk menyakitinya, kembali memperkosanya.

Tangan Tora memegang dagu Aoi dan mendekatkan ke wajahnya. Mencium bibir Nao dengan kasar dan mengigitnya sesekali. Ciuman itu bagi Nao tersa sangat menjijikan. Ia tak menginginkan ini terjadi lagi. Aoi sudah menghapus semua bekas dari tora dengan cintanya. Tapi kini ia harus merasakan apa yang dulu ia rasakan.

Ciuman tora kini mulai turun sampai kebagian leher Nao. Lidahnya menari lincah di setiap inci leher nao. Kini tora mencoba melucuti pakaian yang nao kenakan dengan sigapnya.  Tangannya mencengkeram kuat tubuh nao agar nao tak melawan. Nao sudah mencoba melawan tapi hasilnya percuma. Ia kalah jauh dari tora, tubuhnya terlalu kecil daripada tubuh tora.

“hentikan tora. Kumohon hentikan !!” nao kembali menjerit. Isak tangisnya terdengar begitu menyakitkan. Ia benar-benar jijik dengan apa yang tora lakukan sekarang. Tangan tora mulai meraba dadannya. Ia terus menangis tangannya semakin bergetar hebat. Jantungnya berdetak semkin kencang. Kalau ia boleh meminta ia ingin mati sekarang daripada harus disentuh dengan tora.

“HENTIKAN TORAAA!!! KUBILANG HENTIKAN !” kini jeritan nao berhasil membuat tora menghentikan aktivitasnya. Nafasnya tersengal-sengal. Tubuhnya kini mulai bergetar hebat. Air matanya mengalir deras dari wajahnya.
“kau bilang hentikan ? hhaahaha” tawa tora semakin meledak. “justru ketakutanmulah nao yang aku rindukan. Ekspresimu saat kau memohon untuk aku tak melakukan ini padamu. Aku merindukan ketakutanmu nao.”  Tora kini mencengkeram tangannya kuat.

“Sa.. kiiit tora. Sakit.” Semakin ia memberontak tangan tora justru semakin kuat mencengkeramnya,

“kau berani melawanku sekarang hah!? Kau piker kau siapa? Jadi selama ini kau berlindung dibelakang pungung aoi. Kau hanya milikku nao. Hanya aku !!” sebuah tamparan kini terasa sangat menyakitkan bagi Nao. Tora menamparnya dengan keras.

“bajingan kau tora ! brengsek ! aku benci dirimu. Sampai matipun aku tak akan memaafkanmu.” Nao menatap tora dengan ekspresi penuh kebencian.

“kau piker aku takut ? aku bisa bilang saja pada Aoi kalau kau yang mengodaku dan apa sajalah yang merusak citramu di mata Aoi sebagai seorang yang baik dan polos. Aoi pasti lebih percaya padaku karena aku teman aoi. Aku mengenal; aoi jauh daripada kau mengenalnya nao.”

“apa yang kau inginkan dariku?” isak nao. Ia takut aoi lebih mempercayai tora dan meninggalkannya.

“itu kata yang aku tunggu. Aku ingin kau seuuhnya Nao.” Tora Kini tora membalik tubuh nao dengan kasar. Tangannya mencoba membuka resleting celananya dan kini ia mulai mencari lubang menuju tubuh nao. Setelah ia mendapatkannya kini ia mencoba memasukan punyanya kedalam tubuhnya. Ia menikmati nao seutuhnya dari dalam. Nao mengerang kesakitan, tangannya mencengkeram selimut itu dengan kuat,. ia merasa sekarang tubuhnya sudah sangat hina. Ia sudah berjanji pada Aoi kalau hanya melakukan itu dengan Aoi.

Setelah selesai dengan orgasme itu, nao piker ini akan segera berakhir tap ia salah. Tora masih melakukannya lagi. Kini tora membalik tubuh nao tepat berhadapan dengannya. Rintihan dan tangisan nao kini tak ia hiraukan. Ia masih dengan kepuasannya sendiri.

“hentikan! Ku mohon hentikan. Sudah cukup tora.” Nao kembali melawan tapi hanya dia-sia.

“diam dan nikmati sajalah ini nao. Bukankah kau juga sudah biasa melakukan ini dengan Aoi? “ tora memaksakan punyanya masuk kedalam mulut nao , memaksanya nao mengulumnya.  Memaju mundurkan punyanya hingga nao tersedak. Tapi ia tak menghiraukan dan masih dengan aktivitasnya.

BRAK !!! pintu kamar itu terbuka dengan paksa dan Aoi berada didepan sana. Berdiri tertegun dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.

“apa yang kalian lakukan?” aoi masih tertegun seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Tangannya mengengam erat tanda ia benar-benar kesal.

“Aoi, aku bisa jelaskan ini semua. Aku bisa jelaskan! Kumohon dengarkan aku. ku mohon percayalah padaku.” Aoi tidak menjawab apapun. Kini ia mendekatinya dan tora. Aoi menatap nao dengan tatapan benci dan kekecewaan yang mendalam.

DUAGH ! sebuah tinju mendarat dipipi mulus tora.

“brengsk kau tora. Biadab kau tora. Kenapa kau menghianati aku hah !! kenap?” nafas aoi terdengar berat. Ia merasa sakit sekali sekarang apa lagi melihat nao yang sekarang tanpa sehelai benang di tubuhnya. Bukankah nao sudah berjanji padanya kalau ia hanya akan melakukan itu dengannya.

“dia yang memintanya Aoi. Dia mengodaku. Aku mengenalnya jauh sebelum kau mengenalnya. “dia tak lebih dari seorang pelacur.” Kata pelacur yang keluar dari mulut tora terasa sangat mengiris hati nao.

‘bohong aoi. Itu tidak benar. Aku.. aku ..” nao tak melanjutkan. Ia hanya menangis. “toralah yang memperkosaku. Aku hanya mencintai aoi.” Nao kembali meyakinkan. Sementara tora masih mencoba membuat Aoi mempercayainya.

“diam kau tora. Kalian diam. Kalian sama saja brengseknya.” Saat ini Aoi benar-benar bingung. Ia harus percaya pada siapa? Pada nao orang yang sangat ia cintai atau pada tora sahabatnya. Entah mengapa yang terpikir olehnya sekarang hanya kata jalang yang melintas diotaknya untuk nao.

Ia mendekati nao dan membelainya lembut. Memandangnya dalam dan tanpa ia sadari buliran bening sebening Kristal mengalir dari pelupuk matanya.

 Plak!! Sebuah tamparan kini mendarat dipipi nao. Terasa sangat sakit apalagi aoi yang melakukannya. Aoi seperti sudah tidak ingin melihatnya lagi. Seperti sudah muak dengannya. Aoi pasti sangat membencinya sekarang.

“Dasar jalang! Kau murahan sekali. Memberikan tubuhmu untuk pria lain. Kau itu tak tahu diri. Jauhi aku sekarang. Dan jangan pernah muncul dihadapanku lagi.” Kata-kata Aoi benar-benar membuat hati nao terasa perih. Dan kini aoi perlahan pergi dan bayangannya pun sudah tak terlihat lagi. Tamparan aoi memang terasa sakit, tapi rasanya tak sesakit rasa sakit dihatinya karena Aoi meningalkannya.

TBC~

Saya minta maaf kalau fanficnya mengecewakan. T_T
Bener” minta maaf ama minna semua. Hiks hiks. Pasti fanficnya garing ia? DX
Saia udah ada niat buat nga post ini penpic. Tapi jeng keke ama anak saya nyemangatin saia buat lanjot ini fanfic.
Semoga minna semua suka. J

Kripik dan sarapan saia terima dengan senang hati. Tapi pakai kata yang halus ya. ^_^a
Arigazette~

- Airi Leo Kouyou Naoyuki -

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar