leo-chuu

VisualxDischarge

Kamis, 03 Mei 2012

Je me Souviens | Aoi X Nao | Chap 4 Ending

Author             : ArGeMa Leo-Poo KuroNaoyuki

Titlle                : Je Me Souviens

Chap                : 4/ Ending

Fandom           : the GazettE , Alice Nine

Pair                  : Aoi X Nao (main) , Tora X  Nao

Summary         :

Genre              : Angst.

Coment           : ngak ada edit. Maaf kalau ada salah typo. *duakh* maaf juga kalau ceritany rada garing. T_T

A/n                  : saya bener-bener lagi jatuh cinta ama ini pair. XDXD

Disclaimer       : nao punya saia sorang ! yang lain punya emaknya. jadi mereka bukan punya tante girang yang seenak jidatnya aja ama para artisnya. (-v-)







Douzoooo~ \(^_^)/





Pemuda dengan rambut hitam dan merah ranum itu kini tertidur pulas dengan beberapa selang ditubuhnya. Sebuah selang oksigen yang membantu nafasnya, dan juga selang infuse yang menancap di tangan kirinya. Tubuhnya pucat dan terasa dingin. Disampingnya seorang pemuda tampan dengan piercing di sudut bibirnya itu sudah hamper 3 hari menunggunya tanpa kenal lelah. Berharap agar pemuda yang sangat ia cintai itu segera bangun dari tidurnya dan orang pertama yang ia lihat adalah Aoi.

Tangan Aoi masih memegang erat tangan milik Nao , menciumnya sesekali dan membelai rambut nao. Sesekali ia terlihat seperti membisikkan seseatu pada pemuda yang sedang tertidur pelan. Berharap nao segera bangun dari tidurnya.

“Nao… ayo bangun. Ku mohon buka kembali matamu.” Ucap aoi lirih lalu mencium pipi Nao yang masih terasa dingin. “kau tahu nao , mungkin sekarang bajingan itu sudah dijemput oleh para penjaga neraka. Dia pantas mendapatkan itu bukan?” lanjut Aoi berharap Nao menjawab kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Tapi nao masih diam , diam tanpa menjawab apapun.

“aku sudah membalaskan dendammu padanya saying. Jadi kumohon bangunlah dan buka kembali matamu. Nao jawab aku!” buliran bening kini mengalir di wajah tampan Aoi. Ia benamkan wajahnya , tangannya masih mengengam erat tangan milik Nao.

                                    ~~FLASHBACK~~

Bel apato itu berdering. Seorang pemuda jangkung dengan rambut hitam legam itu dengan malas membuka pintu apato. Dan saat pintu itu terbuka matanya membulat sempurna, kaget bahwa Aoi sudah berada berdiri didepan sana.

“Aoi, kau ada apa kesini?” Tanya tora sedikit memasang ekspresi bingung.

“Kau bertanya seperti itu? Bukankah kau sendiri mengerti maksudku Tora?” jawab Aoi tersenyum bengis.

“maksudmu?” tora semakin bingung dengan dengan kedatangan Aoi.

BUAGH !

 sebuah tinju kini mendarat diwajah tampan Tora. Ia mengerang pelan. Mengusap darah disudut bibirnya.

“Aoi apa kau gila hah! Aku salah apa padamu!” bentak tora pada Aoi.

“Sial kau tora! Bajingan kau ! kau masih bias bicara seperti itu sementara Nao.. Nao .. akrena kau sekarang ia jadi seperti ini” Tinju aoi kini kembali mengenai pipi kanan tora. Mendorong tora hingga tora tersungkur ke lantai.

Buagh !

“ini untuk kauyang telah melukai Nao.”

Buagh !

“ini untuk kau yang telah menghianati persahabatan kita.”

Buagh !

“dan ini karena kau telah membuat Nao seperti sekaran. Kau membuatnya hamper bunuh diri dan sekarang kau tahu ia koma dan mengalami trauma berat.”

Tora hanya membiarkan Aoi   memukulnya sampai aoi puas. Ia tak menyangka kalau nao akan seperti ini.

“kenapa kau diam hah! Jawab aku brengsek!! Bajingan kau Tora. Sialan.” Kini tinju aoi mulai menghujam wajah tora. Membuat beberapa lebam di wajah dan pelipisnya. Darah pun kembali mengalir dari sana.

“kau sudah puas Aoi?” Tora tersenyum. Ia mendorong Aoi hingga Aoi tersungkur. “Aku yang salah apa kau? Bukankah kau sendiri yang tidak mempercayai Nao. Tapi kini kenapa kau berbalik menyalahkan aku?”ujar tora sambil mengusap darah yang keluar dari sudut bibir tipisnya dengan punggung tangannya.

“kau masih bisa bicara seperti itu Tora. Kau benar-benar brengsek.” Aoi mengeluarkan sebuah pisau dari saku celananya. Membuat tora sedikit terbelalak.

“Aoi , kau tak akan nekat bukan?” tora sedikit menjagajarak dari Aoi. Tak menyangka bahwa Aoi bias melakukan ini. Hanya karena seorang uke.

“kena tora hah? Kau takut hah? Takut kalau aku akan membunuhmu hah? Kau takut tora? Pengecut.” Aoi berjalan menuju kearah Tora. Menodongkan pisaunya kea rah tora yang m,ulai terpojok.

“Aoi kumohon hentikan. Hai kawan kau lupa dengan persahabatan kita?” kata tora sedikit merayu.

“hahahah~ kau lucu tora. Apa kau juga berhenti saat nao menjerit ketakutan saat kau memperkosanya hah! Apa kau juga mempedulikan bagaimana perasaannya saat ia memohon meronta kesakitan bahkan saat ia menangis, menjerit meminta kau menghentikannya.”

Tora tak menjawab, ia hanya diam.

“kenapa kau diam hah?  Kau takut kalau aku membunuhmu. Kau pikir aku akan mengampunimu. Kau bermimpi. Jangan perbah berharap. Bahkan aku yang akan melihat kau meregang nyawa.” Aoi tersenyum.

*** (^_^a) ***

Jleb !

Sebuah pisau kini sudah menancap pada perut tora. Menembus perutnya dan darah mengalir deras dari sana. Tora memegang pisau itu. Mencoba mencabutnya tapi ia sudah terlanjur roboh. Wajahnya memekik kesakitan dan darahpun mulai keluar dari mulutnya. Ia menatap pemuda didepannya, seorang sahabatnya yang tega membunuhnya sendiri. Mengambil nyawanya. Sahabatnya dari kecil.

“Aoi.. aku tak…kan me..nyesal ji..kaa.. aku mat.ti di.. di ta..nganmu. se..la..mat tingg..tinggal kawan.” Kini mata indah pemuda itu sudah terpejam. Sebelum itu ia tersenyum , tersenyum kepada sahabatnya itu. Tersenyum berharap sahabatnya itu dapat memaafkannya walau harus dengan nyawanya.

“To..raa… maafkan aku.” Kini pemuda dengan tangan yang berlumuran darah dari sahabatnya itu kini tertunduk. Sedikit dalam lubuk hatinya ia menyesal telah membunuh sahabatnya sendiri dengan tangannya. Tapi inilah mungkin hal yang sepadan untuk tora.

“selamat jalan kawan.” Aoi membersihkan tangannya dari darah tora dan kembali mencabut pisau yang tertancap pada tubuh tora. Kemudian ia pergi seolah-olah tidak pernah terjadi apapun.


                                                Flashback End


                                                *Nao Pov*
Aku sekarang ada dimana? Gelap gelap bahkan tak ada seorangpun yang menemaninya. Hanya ia dan sepiyang ada. Terakhir yang aku ingat hanya saat aku berada dalam dekapan hanagat Aoi. Apa aku sudah mati.

“Nao.. bukalah matamu. Kumohon bukalah matamu.” Suara itu , itu suara Aoi. Tapi dimana Aoi. Tak ada aoi disini. Disini hanya ada kegelapan.

“Aoi!! Kau ada dimana Aoi. Aoi!!!” aku berteriak sekuat tenaga berharap aoi mendengar suaraku. Tapi tak ada jawaban. Semua percuma.

Aku duduk, duduk berharap agar ada seseorang yang menolongku keluar darii tempat ini. Berharap ada yang membawanya kembali bersama Aoi.

Bersama isakkan tangisanku itu, cahaya putih terang mendekatiku. Akupun berjalan kearahnya dan saat aku masuk disana disana sangat terang, membuatku harus menyilangkan sebuah tanganku kedepan tanganku.

Perlahan-lahan semua kembali terlihat. Hanya warna putih yang aku lihat. Dan suara alat penghitung detak jantung (Author ngak tahu namanya apaan) yang aku dengar. Kurasakan ada seseorang yang mengenggam tanganku erat. Itu Aoi. Aoi yang berada disampingku. Apa aoi yang menjagaku selama ini.

“Aoi…” panggilku lirih. Sepertinya aoi tak mendengar suaraku. Ku coba besrkan volume suaraku tapi tetap saja aoi tak mendengar.

Tiba-tiba saja seorang perempuan dengan pakaian putih dengan membawa sebuah selimut masuk dan kaget melihatku. Melihatku seperti melihat seorang hantu.

“Anda sudah sadar tuan naoyuki?” ucapnya lembut.

Sadar? Sadar maksudnya? Sudah berapa lama aku tertidur sampai suster itu terlihat begitu senang melihatku bangun.

Suara gaduh suster itu mebuat tidur aoi terganggu. Aoi bangun dan senyuman terlukis indah dari bibirnya.

“Nao , kau sudah bangun?’ air mata mengalir dari mata indah Aoi.

“aoi, aku kenapa? Aku ada dimana?” tanyaku pada Aoi dengan suara lirih.

“kau tak sadarkan diri selama tiga hari bodoh! Kau membuatku hampir mati karena khawatir” ucap aoi seperti petasan betawi. *author digoreng Aoi

“maafkan aku aoi. Suster biosa tinggalkan kami sendiri?” pintaku pada suster itu.

“anda yakin?” Tanya suster itu dan aku hanya tersenyum.
“nah , nao sekarang hanya ada kau dan aku. XDD” aoi mendekatkn wajahnya tepat dihadapanku.

“maksud aoi” >////”

“bolehkan romeo mendapatkan ciuman dari sang Juliet?” tanpa persetujuan dariku kini Aoi menciumku dalam. Decapan dan desahan kami kini memenuhi ruangan ini. Setelah ini aku tahu apa yang akan aoi lakukan. Aoi Mencoba memasukkan lidahnya dengan paksa kedalam mulutku lalu mengulumnya seperti permen. Lidahnya menari lincah dalam mulutku menghisapnya dalam. Tangannya mengusap air liur yang menetes keluar dari sudut bibirku. Bibir kami masih bertemu sampai beberapa menit kemuadian.

Owariiiiiiiiii~~~


Fiuh !! akhirnya end juga yak. XDD hhuhuhuhu inilah payahnya Author amatir macam saya. T_T
endingnya kerenyes kerenyes banget deh. Karena saya memang lagi dikejer death time ngurus ini itu jadi saya Cuma sempet ngepublish sekarang. >____

Okai !!! cacian, hinaan,kripik dan sarapan saya trima dengan senag hati. Kebetulan saya juga baru pulang latian basket jadi lumayan dah buat isi perut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar